Emiten energi baru terbarukan (EBT) seperti PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), hingga PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) dinilai mulai mencuri perhatian investor di tengah rencana pengetatan produksi batu bara nasional pada 2026. Kondisi tersebut dipandang menjadi momentum positif bagi saham-saham energi hijau di Bursa Efek Indonesia. Sentimen positif

Emiten energi baru terbarukan (EBT) seperti PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), hingga PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) dinilai mulai mencuri perhatian investor di tengah rencana pengetatan produksi batu bara nasional pada 2026. Kondisi tersebut dipandang menjadi momentum positif bagi saham-saham energi hijau di Bursa Efek Indonesia.
Sentimen positif muncul setelah pemerintah berencana memperketat pengendalian produksi batu bara melalui revisi aturan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026. Kebijakan tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas harga batu bara global sekaligus mengendalikan pasokan domestik. (Indo Premier)
Di tengah tekanan terhadap sektor batu bara, sejumlah emiten EBT justru menunjukkan prospek pertumbuhan yang lebih kuat. Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menilai kinerja emiten energi hijau pada 2026 berpotensi meningkat seiring mulai beroperasinya berbagai proyek pembangkit energi terbarukan. (TradingView)
BREN menjadi salah satu emiten yang diproyeksikan mendapat dorongan signifikan dari proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Wayang Windu Unit 3 dan Salak Unit 7 yang ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal IV-2026. Tambahan kapasitas tersebut diperkirakan akan memperkuat pendapatan perusahaan dalam jangka panjang.
Sementara itu, PGEO mencatat pertumbuhan operasional yang solid pada kuartal I-2026. Produksi listrik perusahaan naik 15,22 persen secara tahunan menjadi 1.370 GWh, sedangkan laba bersih melonjak 40 persen menjadi 43,9 juta dollar AS. Kinerja tersebut ditopang optimalisasi aset panas bumi dan kontribusi proyek baru seperti Lumut Balai Unit 2.
Selain pertumbuhan kinerja, PGEO juga mendapat sorotan dari sisi keberlanjutan. Hingga Maret 2026, perusahaan mencatat penghindaran emisi sekitar 1,16 juta ton CO2e dibanding pembangkit berbasis batu bara. Faktor ini dinilai memperkuat posisi emiten EBT di tengah tren dekarbonisasi global.
Emiten EBT lain seperti ARKO dan PT Kencana Energi Lestari Tbk (KEEN) juga dinilai memiliki peluang pertumbuhan menarik. ARKO diuntungkan oleh mulai beroperasinya proyek PLTA Kukusan 2 pada awal 2026, sementara proyek PLTA Tomoni diperkirakan menjadi katalis pertumbuhan pada 2027.
Menurut analis Korea Investment & Sekuritas Indonesia Muhammad Wafi, emiten EBT yang paling prospektif adalah perusahaan yang telah memiliki proyek beroperasi komersial, kontrak jangka panjang dengan PLN, serta akses pendanaan hijau berbiaya rendah. Ia menyebut saham PGEO, BREN, ARKO, dan KEEN layak dicermati investor.
Meski demikian, sektor EBT masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari pelemahan rupiah yang meningkatkan biaya investasi berbasis impor hingga negosiasi tarif listrik dengan PLN. Infrastruktur transmisi untuk pembangkit energi hijau di daerah terpencil juga masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah.
Di sisi lain, rencana pembatasan produksi batu bara diperkirakan mendorong emiten tambang mulai mempercepat diversifikasi ke bisnis hilirisasi dan energi hijau. Sejumlah analis menilai perusahaan batu bara yang aktif mengembangkan bisnis EBT akan lebih resilien menghadapi perubahan arah kebijakan energi global.







