728 x 90

Prajogo Pangestu Dapat Kado Pahit, Tiga Emiten Grup Barito Keluar MSCI

Konglomerat Prajogo Pangestu mendapat sentimen negatif tepat pada hari ulang tahunnya setelah tiga emiten yang terafiliasi dengan Grup Barito resmi dikeluarkan dari indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI). Ketiga saham tersebut yakni BREN, TPIA, dan CUAN yang terlempar dari MSCI Global Standard Index dalam rebalancing Mei 2026. Pengumuman MSCI tersebut dirilis Rabu (13/5/2026) dan

Konglomerat Prajogo Pangestu mendapat sentimen negatif tepat pada hari ulang tahunnya setelah tiga emiten yang terafiliasi dengan Grup Barito resmi dikeluarkan dari indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI). Ketiga saham tersebut yakni BREN, TPIA, dan CUAN yang terlempar dari MSCI Global Standard Index dalam rebalancing Mei 2026.

Pengumuman MSCI tersebut dirilis Rabu (13/5/2026) dan akan efektif berlaku pada penutupan perdagangan 29 Mei 2026. Rebalancing MSCI menjadi perhatian investor global karena indeks tersebut digunakan sebagai acuan utama banyak fund manager internasional dalam menentukan portofolio investasi di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Selain tiga emiten milik Prajogo, MSCI juga mengeluarkan AMMN, DSSA, dan AMRT dari MSCI Global Standard Index. Namun, AMRT masih masuk ke MSCI Global Small Cap Index sehingga dianggap “turun kasta” dibanding lima emiten lainnya yang benar-benar keluar dari indeks utama.

BREN, TPIA, dan CUAN selama ini menjadi saham yang identik dengan ekspansi bisnis Grup Barito milik Prajogo Pangestu di sektor energi baru terbarukan, petrokimia, hingga pertambangan batu bara. Ketiganya juga sempat menjadi penggerak utama kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia dalam dua tahun terakhir.

BREN bergerak di sektor energi panas bumi dan energi hijau, sementara TPIA merupakan perusahaan petrokimia terbesar Grup Barito. Adapun CUAN menjadi kendaraan bisnis batu bara dan energi milik Prajogo.

Di tengah keluarnya tiga saham tersebut, Forbes sebelumnya kembali menempatkan Prajogo Pangestu sebagai orang terkaya di Indonesia dengan estimasi kekayaan mencapai 20,9 miliar dollar AS atau sekitar Rp362 triliun. Pengusaha kelahiran 13 Mei 1944 itu selama ini dikenal sebagai pemilik Barito Group yang fokus di sektor energi dan petrokimia.

Rebalancing MSCI kali ini juga memicu tekanan di pasar saham domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah ke level 6.700-an setelah investor asing melakukan penyesuaian portofolio terhadap saham-saham yang keluar dari indeks global tersebut.

Analis menilai keluarnya saham dari indeks MSCI berpotensi memicu arus keluar dana asing dalam jangka pendek karena sejumlah manajer investasi global wajib mengikuti komposisi indeks terbaru. Meski demikian, perubahan komposisi MSCI tidak selalu mencerminkan kondisi fundamental emiten secara permanen karena evaluasi dilakukan secara berkala berdasarkan likuiditas, kapitalisasi pasar, dan free float saham.

Posts Carousel

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos