728 x 90

Dua Anak di Medan Diduga Jadi Korban TPPO Berkedok Kerja

Dua anak perempuan di bawah umur di Kota Medan, Sumatera Utara, diduga menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) setelah diajak bekerja di rumah makan, namun justru dieksploitasi untuk melayani pria hidung belang. Kasus tersebut kini ditangani aparat kepolisian setelah keluarga korban melapor. Peristiwa itu bermula ketika kedua korban dijanjikan pekerjaan oleh seorang perempuan yang

Dua anak perempuan di bawah umur di Kota Medan, Sumatera Utara, diduga menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) setelah diajak bekerja di rumah makan, namun justru dieksploitasi untuk melayani pria hidung belang. Kasus tersebut kini ditangani aparat kepolisian setelah keluarga korban melapor.

Peristiwa itu bermula ketika kedua korban dijanjikan pekerjaan oleh seorang perempuan yang dikenal melalui lingkungan pergaulan mereka. Pelaku disebut menawarkan pekerjaan sebagai pelayan rumah makan dengan iming-iming penghasilan tetap. Namun, setibanya di lokasi, korban diduga dipaksa melayani tamu pria dan mendapat perlakuan yang mengarah pada eksploitasi seksual.

Informasi awal menyebut kedua korban sempat ditempatkan di sebuah lokasi di kawasan Medan sebelum akhirnya berhasil kembali dan menceritakan kejadian yang dialami kepada keluarga. Orang tua korban kemudian melapor ke pihak berwajib untuk meminta perlindungan hukum dan pengusutan terhadap pihak yang terlibat.

Kepolisian saat ini masih mendalami dugaan jaringan perekrut anak di bawah umur yang memanfaatkan modus lowongan kerja informal. Aparat juga menelusuri kemungkinan adanya korban lain dengan pola perekrutan serupa. Sejumlah saksi telah dimintai keterangan, termasuk pihak keluarga dan orang-orang yang diduga mengetahui proses perekrutan korban.

Kasus ini kembali menyoroti tingginya kerentanan anak terhadap praktik perdagangan orang berkedok tawaran pekerjaan. Modus tersebut kerap menyasar remaja dari keluarga ekonomi lemah dengan janji pekerjaan cepat tanpa persyaratan rumit. Dalam banyak kasus, korban baru menyadari telah dieksploitasi setelah berada di bawah kendali pelaku.

Pemerhati perlindungan anak meminta aparat memperkuat pengawasan terhadap perekrutan tenaga kerja informal yang melibatkan anak-anak. Selain penindakan hukum, edukasi kepada keluarga dinilai penting agar masyarakat lebih waspada terhadap tawaran kerja mencurigakan yang berpotensi menjadi pintu masuk eksploitasi anak.

Polisi memastikan penyelidikan akan terus dikembangkan untuk mengungkap pihak yang merekrut, menampung, hingga diduga mengeksploitasi korban. Jika terbukti terjadi TPPO terhadap anak, pelaku terancam hukuman berat sesuai Undang-Undang Perlindungan Anak dan aturan pemberantasan perdagangan orang.

Posts Carousel

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos