Keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25 persen dinilai tepat untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang tengah berada di bawah tekanan kuat. Langkah agresif bank sentral itu disebut penting untuk mengembalikan kepercayaan pasar dan memperkuat jangkar stabilitas moneter nasional. Chief Economist Trimegah Sekuritas

Keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25 persen dinilai tepat untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang tengah berada di bawah tekanan kuat. Langkah agresif bank sentral itu disebut penting untuk mengembalikan kepercayaan pasar dan memperkuat jangkar stabilitas moneter nasional.
Chief Economist Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian mengatakan kenaikan suku bunga tersebut menjadi respons yang diperlukan di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan pelemahan rupiah terhadap dolar AS. Menurut dia, pasar membutuhkan sinyal kuat bahwa otoritas moneter serius menjaga stabilitas ekonomi domestik.
Bank Indonesia pada Rapat Dewan Gubernur Mei 2026 resmi menaikkan BI Rate sebesar 50 bps, lebih tinggi dibanding ekspektasi mayoritas ekonom yang sebelumnya memperkirakan kenaikan hanya 25 bps. Kenaikan ini menjadi yang pertama dalam dua tahun terakhir sekaligus terbesar sejak 2022.
Tekanan terhadap rupiah belakangan meningkat akibat kombinasi sentimen global dan domestik. Nilai tukar rupiah bahkan sempat menyentuh level Rp17.743 per dolar AS pada perdagangan Rabu pagi. Kondisi tersebut dipicu penguatan dolar AS, ketegangan geopolitik global, serta keluarnya modal asing dari pasar domestik.
Fakhrul menilai kenaikan BI Rate akan membantu mempersempit tekanan terhadap rupiah sekaligus menjaga daya tarik aset keuangan domestik di mata investor asing. Meski demikian, ia mengingatkan kebijakan moneter perlu diikuti reformasi fiskal dan penguatan koordinasi pemerintah agar efek stabilisasi lebih optimal.
Gubernur BI Perry Warjiyo sebelumnya mengatakan kenaikan suku bunga dilakukan untuk menjaga inflasi tetap terkendali dan memperkuat stabilitas rupiah di tengah volatilitas pasar global. BI juga mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 pada kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen.
Di sisi lain, sektor perbankan menilai kebijakan pengetatan moneter masih dapat diantisipasi. PT Bank Tabungan Negara (BTN) menyebut industri perbankan telah menyiapkan berbagai skenario menghadapi kenaikan suku bunga acuan, termasuk pengelolaan likuiditas dan penyesuaian strategi kredit.
Kenaikan BI Rate diperkirakan akan berdampak pada biaya pinjaman, suku bunga kredit, hingga pasar saham dan obligasi dalam jangka pendek. Namun, banyak ekonom menilai stabilitas rupiah saat ini menjadi prioritas utama untuk menjaga kepercayaan investor dan ketahanan ekonomi nasional.















