Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 76,15 poin ke level 6.130 pada perdagangan Senin di tengah tekanan sentimen global dan aksi jual investor asing. Pelemahan tersebut memperpanjang tren volatilitas pasar saham Indonesia dalam beberapa pekan terakhir. Pada awal perdagangan, IHSG sempat bergerak fluktuatif sebelum akhirnya berakhir di zona merah. Tekanan terjadi pada sejumlah saham

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 76,15 poin ke level 6.130 pada perdagangan Senin di tengah tekanan sentimen global dan aksi jual investor asing. Pelemahan tersebut memperpanjang tren volatilitas pasar saham Indonesia dalam beberapa pekan terakhir.
Pada awal perdagangan, IHSG sempat bergerak fluktuatif sebelum akhirnya berakhir di zona merah. Tekanan terjadi pada sejumlah saham berkapitalisasi besar di sektor perbankan, teknologi, dan energi.
Pelaku pasar menilai penurunan indeks dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan domestik, mulai dari penguatan dolar Amerika Serikat, ketidakpastian suku bunga global, hingga meningkatnya tensi geopolitik internasional.
Analis pasar modal menyebut arus keluar dana asing juga menjadi salah satu faktor yang membebani pergerakan IHSG. Investor disebut masih cenderung berhati-hati menunggu arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat dan perkembangan ekonomi global.
Selain faktor eksternal, sentimen domestik terkait pelemahan rupiah dan kekhawatiran perlambatan pertumbuhan ekonomi turut memengaruhi psikologi pasar.
Meski demikian, sejumlah analis menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat dibanding negara berkembang lain. Kondisi tersebut dinilai dapat menjadi penopang pemulihan pasar saham dalam jangka menengah.
Otoritas pasar keuangan memastikan koordinasi terus diperkuat guna menjaga stabilitas pasar modal nasional di tengah tekanan global yang masih berlangsung.
















