

Bank Indonesia (BI) melaporkan pertumbuhan uang primer (monetary base atau M0) adjusted pada Juni 2026 sebesar 13,8% secara tahunan (year on year/yoy). Meski masih mencatat pertumbuhan dua digit, laju tersebut lebih rendah dibandingkan Mei 2026 yang tumbuh 14,2% dan April 2026 sebesar 14,3%, menandakan likuiditas di perekonomian mulai tumbuh lebih moderat.
Berdasarkan data BI, perlambatan pertumbuhan uang primer terjadi seiring penyesuaian kondisi likuiditas di sistem keuangan. Perkembangan tersebut tetap mencerminkan kecukupan pasokan uang untuk mendukung aktivitas ekonomi, meski laju ekspansinya tidak setinggi beberapa bulan sebelumnya. Perhitungan M0 adjusted juga telah memperhitungkan dampak kebijakan insentif likuiditas Bank Indonesia sehingga memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai kondisi moneter nasional.
Uang primer merupakan komponen likuiditas yang terdiri atas uang kartal yang beredar di masyarakat serta giro bank umum di Bank Indonesia. Indikator ini menjadi salah satu acuan penting untuk melihat kondisi likuiditas perekonomian dan efektivitas kebijakan moneter yang dijalankan bank sentral. Sejak Januari 2025, BI menggunakan metode perhitungan adjusted guna mengisolasi dampak insentif likuiditas sehingga tren pertumbuhan M0 dapat dibaca dengan lebih tepat.
Perlambatan pertumbuhan M0 terjadi di tengah kondisi ekonomi yang masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari tekanan nilai tukar rupiah, kenaikan inflasi, hingga ketidakpastian ekonomi global. Namun, BI menilai likuiditas perbankan tetap berada pada level yang memadai untuk mendukung penyaluran kredit serta aktivitas sektor riil. Langkah pengelolaan likuiditas juga dilakukan secara hati-hati agar stabilitas sistem keuangan tetap terjaga tanpa mengganggu momentum pertumbuhan ekonomi.
Di sisi lain, perlambatan pertumbuhan uang primer juga mencerminkan normalisasi kebijakan moneter setelah sebelumnya BI memberikan berbagai insentif likuiditas kepada sektor perbankan. Dengan kondisi tersebut, bank sentral memiliki ruang yang lebih besar untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas harga, pengendalian inflasi, dan kebutuhan likuiditas di pasar keuangan.
Ke depan, Bank Indonesia diperkirakan akan terus memantau perkembangan likuiditas domestik sejalan dengan dinamika ekonomi global dan pergerakan pasar keuangan. Kebijakan moneter akan tetap diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai rupiah, memastikan likuiditas perbankan tetap memadai, serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan di tengah berbagai tantangan eksternal.
Shama is a Content Specialist and News Writer with 4.5+ years of experience in journalism, press release writing, SEO content, and digital publishing. She covers business, technology, blockchain, cryptocurrency, finance, and corporate communications, delivering research-driven content for media platforms and global audiences.







