
Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada penutupan perdagangan Senin (13/7/2026). Mata uang Garuda mengakhiri perdagangan di kisaran Rp18.100 per dolar AS, mencerminkan tekanan yang masih membayangi pasar keuangan domestik pada awal pekan.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Pelaku pasar masih mencermati perkembangan konflik Amerika Serikat dan Iran yang kembali memanas, setelah kedua negara melancarkan serangan pada akhir pekan. Eskalasi geopolitik tersebut meningkatkan kehati-hatian investor terhadap aset berisiko.
Konflik di Timur Tengah juga mendorong harga minyak dunia melonjak sekitar 4 persen. Kondisi ini menjadi perhatian bagi Indonesia karena kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan kebutuhan valuta asing untuk impor energi dan menambah tekanan terhadap neraca perdagangan maupun nilai tukar.
Selain faktor geopolitik, pergerakan dolar AS di pasar global turut memengaruhi rupiah. Ketika investor meningkatkan permintaan terhadap aset yang dinilai lebih aman di tengah ketidakpastian, dolar AS cenderung mendapatkan dukungan dan memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang.
Tekanan terhadap rupiah juga berlangsung ketika pasar modal domestik masih mencatat arus keluar dana asing. Pada perdagangan sesi pertama Senin, investor asing membukukan aksi jual bersih di Bursa Efek Indonesia. Arus modal asing menjadi salah satu faktor yang terus diperhatikan pelaku pasar dalam menentukan arah mata uang domestik.
Pergerakan rupiah di level Rp18.100 membuat pasar semakin mencermati langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Intervensi di pasar valuta asing, transaksi domestic non-deliverable forward (DNDF), dan pasar surat berharga negara menjadi instrumen yang dapat digunakan untuk meredam volatilitas berlebihan.
Meski demikian, arah rupiah dalam jangka pendek masih sangat bergantung pada perkembangan eksternal. Konflik AS-Iran, pergerakan harga minyak, kekuatan dolar AS, dan arus modal asing diperkirakan tetap menjadi faktor utama yang memengaruhi pasar.
Pelaku pasar selanjutnya akan mencermati apakah tekanan terhadap rupiah berlanjut atau mulai mereda seiring perubahan sentimen global. Level Rp18.100 per dolar AS kini menjadi perhatian karena pelemahan lebih lanjut dapat meningkatkan tekanan terhadap biaya impor dan inflasi domestik.
Jessie Evelyn Kartadjaja adalah seorang penulis yang berfokus pada penulisan berita, analisis ilmiah, dan konten media digital. Ia memiliki ketertarikan dalam menyajikan informasi yang kompleks kepada khalayak luas dengan cara yang jelas, terstruktur, dan mudah dipahami.
Pengalaman menulisnya mencakup penulisan artikel berita, makalah akademis, serta konten media sosial yang membahas isu-isu publik, komunikasi, dan praktik media.
Karyanya bertujuan untuk memadukan riset yang cermat dengan penyampaian cerita yang ringkas dan memikat.



