
JAKARTA, DUNIA WARTA – Studi ilmiah terbaru yang dilakukan oleh tim peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB) mengungkapkan bahwa kendaraan berbahan bakar diesel merupakan penyumbang polusi udara terbesar di wilayah DKI Jakarta pada Jumat (21/8/2026). Temuan ini memetakan secara presisi profil emisi di ibu kota dan menunjukkan bahwa sektor transportasi darat berbasis mesin diesel memiliki kontribusi paling dominan terhadap tingginya konsentrasi polutan berbahaya di udara ambien Jakarta.
Riset tersebut memanfaatkan metode ilmiah penjejakan sumber (source apportionment) untuk membedah komposisi kimia partikel udara di berbagai titik pemantauan. Hasil analisis membuktikan bahwa gas buang kendaraan diesel, terutama dari truk angkutan berat, bus antarkota, dan kendaraan komersial, melepaskan volume partikulat mikro yang jauh melampaui kontribusi sektor industri manufaktur maupun pembangkit listrik di sekitar wilayah penyangga.
Temuan Riset ITB dan Dominasi Emisi Partikulat Diesel
Dalam laporan risetnya, para peneliti ITB menemukan tingginya jejak karbon hitam (black carbon) dan senyawa hidrokarbon aromatik polisiklik yang menjadi ciri khas pembakaran bahan bakar solar. Partikel halus berukuran kurang dari 2,5 mikrometer (PM2.5) yang dihasilkan mesin diesel dinilai sangat berbahaya karena mampu menembus sistem pernapasan terdalam manusia hingga masuk ke peredaran darah.
Meskipun jumlah populasi kendaraan bermesin diesel di jalan raya Jakarta lebih sedikit dibandingkan sepeda motor atau mobil bensin, karakteristik pembakaran bahan bakar fosil pada mesin diesel menghasilkan emisi jelaga dan partikulat per unit kendaraan yang jauh lebih padat dan masif.
Tingginya aktivitas mobilitas angkutan logistik berat yang melintasi jalan tol lingkar luar dan arteri utama pada malam hari terbukti menjadi pemicu lonjakan indeks polusi pada dini hari.
Kualitas Bahan Bakar dan Kepatuhan Perawatan Armada Niaga
Salah satu variabel krusial yang disorot dalam studi ITB adalah disparitas kualitas bahan bakar solar yang beredar di pasaran. Penggunaan jenis bahan bakar bersubsidi dengan angka cetane rendah dan kandungan sulfur yang masih tinggi dinilai memperparah emisi jelaga hitam dari knalpot kendaraan niaga.
Selain masalah kualitas bahan bakar, rendahnya tingkat kepatuhan pemilik armada terhadap perawatan berkala dan peremajaan sistem penyaring partikulat (Diesel Particulate Filter/DPF) membuat gas buang keluar tanpa penyaringan optimal.
Kondisi mesin yang bekerja di luar kapasitas beban muatan (over dimension over load/ODOL) turut memicu proses pembakaran bahan bakar yang tidak sempurna, sehingga melipatgandakan emisi polutan beracun ke atmosfer.
Rekomendasi Kebijakan dan Pengetatan Regulasi Uji Emisi
Menyikapi temuan riset tersebut, tim ahli ITB mendesak Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan kementerian terkait untuk memperketat razia kepatuhan uji emisi gas buang secara rutin di lapangan, khususnya bagi kendaraan berat dan bus penumpang.
Pemberlakuan sanksi tilang serta penegakan tarif parkir disinsentif bagi kendaraan yang belum atau tidak lolos uji emisi diminta untuk ditegakkan tanpa toleransi.
Pemerintah juga didorong untuk mempercepat harmonisasi standar bahan bakar minyak (BBM) ramah lingkungan setara Euro 4 dan Euro 5 secara merata guna memangkas kandungan sulfur pada seluruh varian produk solar yang dipasarkan di kawasan aglomerasi.
Akselerasi Elektrifikasi Angkutan Publik dan Truk Logistik
Studi ITB merekomendasikan transisi armada angkutan massal dan kendaraan operasional niaga menuju kendaraan listrik (electric vehicle/EV) sebagai solusi struktural jangka panjang. Elektrifikasi bus Transjakarta dan kendaraan dinas kota perlu diperluas ke sektor logistik perkotaan berkapasitas sedang.
Pemberian insentif fiskal dan kemudahan skema pembiayaan perbankan bagi perusahaan logistik yang meremajakan armadanya dengan kendaraan listrik atau bahan bakar gas dinilai mampu menekan laju emisi harian secara signifikan.
Langkah integrasi antara perbaikan tata ruang transportasi, peningkatan fasilitas pejalan kaki, dan elektrifikasi moda angkutan umum diposisikan sebagai pilar utama dalam mewujudkan langit biru Jakarta yang sehat dan bebas polusi.
Hasil studi ITB yang menetapkan kendaraan diesel sebagai kontributor terbesar polusi udara di Jakarta memberikan rujukan ilmiah yang terang bagi perumusan kebijakan lingkungan. Melalui pengetatan kepatuhan uji emisi, pembenahan standar mutu bahan bakar solar, serta akselerasi elektrifikasi armada komersial, kualitas udara Jakarta diharapkan dapat segera pulih demi menjamin kesehatan dan kelayakan hidup seluruh warganya.
Jessie Evelyn Kartadjaja adalah seorang penulis yang berfokus pada penulisan berita, analisis ilmiah, dan konten media digital. Ia memiliki ketertarikan dalam menyajikan informasi yang kompleks kepada khalayak luas dengan cara yang jelas, terstruktur, dan mudah dipahami.
Pengalaman menulisnya mencakup penulisan artikel berita, makalah akademis, serta konten media sosial yang membahas isu-isu publik, komunikasi, dan praktik media.
Karyanya bertujuan untuk memadukan riset yang cermat dengan penyampaian cerita yang ringkas dan memikat.



