KPR Bank Besar Tetap Tumbuh Saat Industri Perbankan Melambat

Pertumbuhan kredit pemilikan rumah (KPR) industri perbankan mulai melambat pada awal 2026. Namun di tengah tekanan daya beli dan tingginya suku bunga, sejumlah bank besar masih mampu mencatatkan pertumbuhan positif bahkan hingga dua digit.

Data Bank Indonesia menunjukkan pertumbuhan KPR nasional pada Maret 2026 hanya mencapai 4,5 persen secara tahunan atau year on year (yoy), turun dibanding Februari yang sebesar 5 persen. Perlambatan itu turut menahan laju kredit konsumsi nasional yang hanya tumbuh 5,8 persen yoy. 

Meski industri melambat, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. atau BTN masih menjadi penyalur KPR terbesar di Indonesia. Hingga kuartal I/2026, total portofolio KPR BTN mencapai Rp329,93 triliun atau tumbuh 5,93 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan ditopang kenaikan KPR subsidi dan nonsubsidi seiring dukungan program pembiayaan perumahan pemerintah. 

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. atau BRI menjadi bank dengan pertumbuhan KPR tertinggi di kelompok bank besar. Penyaluran KPR bank only BRI naik 11,06 persen yoy menjadi Rp67,3 triliun pada kuartal I/2026. Perseroan menyebut pertumbuhan tersebut dibarengi perbaikan kualitas aset dan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL).

Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk. mencatat pertumbuhan KPR sebesar 5,25 persen yoy menjadi Rp142,4 triliun. Adapun PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. masing-masing membukukan pertumbuhan 9,32 persen dan sekitar 5 persen secara tahunan. 

Di sisi lain, tidak semua bank mampu menjaga pertumbuhan pembiayaan rumah. PT Bank Permata Tbk. justru mencatat penurunan KPR sebesar 7,32 persen yoy menjadi Rp26,6 triliun. Sejumlah bank menilai tekanan daya beli masyarakat dan ketidakpastian ekonomi global masih menjadi tantangan utama penyaluran kredit properti. 

Ekonom menilai penurunan BI Rate sejak tahun lalu mulai memberi ruang terhadap penurunan bunga KPR, meski dampaknya belum sepenuhnya terasa. Program perumahan pemerintah, insentif pajak, serta permintaan rumah subsidi diperkirakan masih menjadi penopang utama pertumbuhan KPR hingga akhir 2026. 

Website |  + posts

Jessie Evelyn Kartadjaja adalah seorang penulis yang berfokus pada penulisan berita, analisis ilmiah, dan konten media digital. Ia memiliki ketertarikan dalam menyajikan informasi yang kompleks kepada khalayak luas dengan cara yang jelas, terstruktur, dan mudah dipahami.

Pengalaman menulisnya mencakup penulisan artikel berita, makalah akademis, serta konten media sosial yang membahas isu-isu publik, komunikasi, dan praktik media.

Karyanya bertujuan untuk memadukan riset yang cermat dengan penyampaian cerita yang ringkas dan memikat.

Jessie Evelyn Kartadjaja

Jessie Evelyn Kartadjaja adalah seorang penulis yang berfokus pada penulisan berita, analisis ilmiah, dan konten media digital. Ia memiliki ketertarikan dalam menyajikan informasi yang kompleks kepada khalayak luas dengan cara yang jelas, terstruktur, dan mudah dipahami.

Pengalaman menulisnya mencakup penulisan artikel berita, makalah akademis, serta konten media sosial yang membahas isu-isu publik, komunikasi, dan praktik media.

Karyanya bertujuan untuk memadukan riset yang cermat dengan penyampaian cerita yang ringkas dan memikat.

More From Author

CFD Rasuna Said Dihentikan Sementara, Dishub DKI Lakukan Evaluasi Total

Prabowo Siapkan Rp10,2 Triliun untuk Renovasi Ribuan Puskesmas