

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih menghadapi tekanan pada perdagangan Rabu, 1 Juli 2026, setelah mencatat pelemahan tajam pada sesi sebelumnya. Sejumlah analis menilai sentimen negatif, baik dari dalam maupun luar negeri, masih membayangi pasar sehingga investor perlu menerapkan strategi yang lebih selektif dalam memilih saham.
Koreksi yang terjadi dinilai belum menunjukkan tanda-tanda berakhir. Tekanan berasal dari kombinasi arus keluar dana asing, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, hingga kehati-hatian pelaku pasar menjelang rilis sejumlah indikator ekonomi penting. Kondisi tersebut membuat pergerakan IHSG masih berada dalam tren turun meskipun peluang technical rebound tetap terbuka.
Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memperkirakan IHSG masih berpotensi melanjutkan pelemahan dengan area support di kisaran 5.619 dan resistance sekitar 5.722. Menurutnya, tekanan jual dari investor asing masih menjadi faktor dominan yang membatasi ruang penguatan indeks dalam jangka pendek.
Sementara itu, analis Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang menilai indikator teknikal juga belum memperlihatkan sinyal pemulihan yang kuat. Histogram MACD mulai mengecil dan berpotensi membentuk death cross, sedangkan stochastic RSI masih bergerak pada area yang mengindikasikan tren pelemahan berlanjut. Dengan kondisi tersebut, IHSG diperkirakan masih berisiko menguji area support yang lebih rendah.
Selain faktor teknikal, pasar juga mencermati sejumlah sentimen makroekonomi. Investor menunggu data tenaga kerja Amerika Serikat, perkembangan inflasi Indonesia, hingga respons lembaga pemeringkat internasional terhadap kondisi ekonomi nasional. Bersamaan dengan itu, tekanan terhadap rupiah dan berlanjutnya outflow asing turut memengaruhi minat investasi di pasar saham domestik.
Di tengah kondisi tersebut, sejumlah saham masih dinilai memiliki peluang menarik untuk dicermati. MNC Sekuritas merekomendasikan saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Elnusa Tbk (ELSA), dan PT Rukun Raharja Tbk (RAJA). Keempat saham tersebut dipandang memiliki potensi pergerakan yang lebih baik berdasarkan analisis teknikal dibandingkan mayoritas emiten lainnya.
Pelaku pasar disarankan tetap disiplin menerapkan manajemen risiko mengingat volatilitas diperkirakan masih tinggi sepanjang awal Juli. Investor jangka pendek dapat memanfaatkan level support dan resistance sebagai acuan transaksi, sedangkan investor jangka panjang dapat mempertimbangkan akumulasi bertahap pada saham berfundamental kuat apabila koreksi masih berlanjut. Dengan berbagai sentimen yang berkembang, arah IHSG selanjutnya akan sangat dipengaruhi pergerakan dana asing, stabilitas rupiah, serta perkembangan ekonomi global.
Shama is a Content Specialist and News Writer with 4.5+ years of experience in journalism, press release writing, SEO content, and digital publishing. She covers business, technology, blockchain, cryptocurrency, finance, and corporate communications, delivering research-driven content for media platforms and global audiences.







