Dicoret MSCI, Saham Grup Prajogo Pangestu Kompak Ambruk

Saham-saham milik Grup Prajogo Pangestu mengalami tekanan besar setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mencoret sejumlah emiten Indonesia dari indeks globalnya. Pelemahan saham tersebut ikut menyeret Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke zona merah pada perdagangan Rabu (13/5). 

Tiga emiten utama yang terafiliasi dengan Prajogo Pangestu dan terkena dampak langsung ialah PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN). Ketiganya tercatat langsung melemah tajam sejak pembukaan perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI). 

Berdasarkan data RTI Business, saham TPIA mengalami penurunan paling dalam hingga 14,85 persen ke level Rp4.300 per saham. Sementara CUAN terkoreksi sekitar 10,05 persen menjadi Rp850 per saham dan BREN turun 11,36 persen ke posisi Rp3.200 per saham. 

Tekanan tidak hanya terjadi pada tiga saham tersebut. Emiten lain yang masih berada dalam kelompok usaha Prajogo Pangestu juga ikut melemah. PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) turun sekitar 4,72 persen, PT Petrosea Tbk (PTRO) melemah 6,51 persen, dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) terkoreksi sekitar 8,77 persen pada sesi perdagangan yang sama. 

Pelemahan ini dipicu keputusan MSCI yang menghapus enam saham Indonesia dari MSCI Global Standard Index dalam peninjauan indeks terbaru. MSCI sebelumnya menyoroti isu transparansi pasar, tingkat free float, serta konsentrasi kepemilikan saham yang dinilai terlalu tinggi pada sejumlah emiten Indonesia. 

Ketika sebuah saham dikeluarkan dari indeks MSCI, banyak dana investasi global biasanya langsung melakukan penyesuaian portofolio dengan menjual saham terkait. Aksi jual besar-besaran tersebut kemudian memicu tekanan harga di pasar saham domestik. 

Reuters melaporkan keputusan MSCI membuat IHSG turun hampir 2 persen dan menyentuh level terendah dalam lebih dari satu tahun terakhir. Selain saham Grup Prajogo Pangestu, beberapa emiten lain yang dicoret dari indeks juga mengalami tekanan serupa akibat arus keluar dana asing. 

Sebagai respons terhadap sorotan MSCI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI mulai mempercepat reformasi pasar modal, termasuk peningkatan transparansi kepemilikan saham dan pengetatan aturan free float emiten. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga status pasar modal Indonesia tetap kompetitif di mata investor global. 

Meski tekanan jangka pendek masih besar, sejumlah analis menilai pembenahan tata kelola pasar modal dapat memperkuat kredibilitas pasar saham Indonesia dalam jangka panjang. Namun volatilitas diperkirakan masih berlanjut hingga proses rebalancing MSCI efektif pada akhir Mei 2026. 

Website |  + posts

Jessie Evelyn Kartadjaja adalah seorang penulis yang berfokus pada penulisan berita, analisis ilmiah, dan konten media digital. Ia memiliki ketertarikan dalam menyajikan informasi yang kompleks kepada khalayak luas dengan cara yang jelas, terstruktur, dan mudah dipahami.

Pengalaman menulisnya mencakup penulisan artikel berita, makalah akademis, serta konten media sosial yang membahas isu-isu publik, komunikasi, dan praktik media.

Karyanya bertujuan untuk memadukan riset yang cermat dengan penyampaian cerita yang ringkas dan memikat.

Jessie Evelyn Kartadjaja

Jessie Evelyn Kartadjaja adalah seorang penulis yang berfokus pada penulisan berita, analisis ilmiah, dan konten media digital. Ia memiliki ketertarikan dalam menyajikan informasi yang kompleks kepada khalayak luas dengan cara yang jelas, terstruktur, dan mudah dipahami.

Pengalaman menulisnya mencakup penulisan artikel berita, makalah akademis, serta konten media sosial yang membahas isu-isu publik, komunikasi, dan praktik media.

Karyanya bertujuan untuk memadukan riset yang cermat dengan penyampaian cerita yang ringkas dan memikat.

More From Author

Pemerintah Naikkan Batas Usia Impor Pesawat Jadi 20 Tahun

RI Tak Hanya Impor Minyak dari Rusia, Nigeria dan Angola Juga Disasar